Tampilkan postingan dengan label HRM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HRM. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Desember 2010

Mengelola Emosi di Tempat Kerja

Barangkali gambaran sosok seperti ini cukup akrab bagi Anda: rekan kerja yang tak pernah punya kata-kata yang menyenangkan, baik itu dalam rapat intern rutin mingguan maupun dalam obrolan makan siang di kantin. Orang-orang seperti ini biasanya menyita energi pada sesi brainstorming karena komentar-komentarnya yang "nggak penting".

Kecenderungan mereka yang mudah "bete" juga mengganggu. Pendek kata, negativitas mereka bisa mengkontaminasi kehidupan kantor. Seperti ditegaskan oleh Profesor Manajemen dari Sekolah Wharton Sigal Barsade yang mempelajari pengaruh emosi-emosi di tempat kerja, emosi itu menular. "Berbagai emosi menjalar dari satu orang ke orang lain seperti virus," kata dia.





Barsade ikut dalam tim penulis paper "Why Does Affect Matter in Organizations?" Dalam studi perilaku organisasional, "affect" merupakan kata lain dari "emotion". Dan, jawaban atas pertanyaan yang tersurat dari judul paper itu: mood, emosi dan semua sikap dari karyawan memiliki pengaruh terhadap kinerja, pengambilan keputusan, kreativitas, turnover, tim kerja, negosiasi dan kepemimpinan. "Semua orang membawa emosi-emosi mereka ke tempat kerja," ujar Barsade.

Jumat, 12 November 2010

7 Tabiat Eksekutif yang Gagal


Menjadi eksekutif atau manajer jelas bukanlah pekerjaan mudah. Di tangan ereka terletak masa depan perusahaan beserta seluruh stakeholdernya. Itu sebabnya, Anda janganlah terlalu bersengan hati bila dipercaya menjadi CEO, Direktur atau bahkan manajer. Salah-salah malah anda membuat perusahaan terjerembab, jatuh bangkrut, merugi, menghilangkan lapangan pekerjaan bagi karyawan, dan seterusnya. Reputasi anda sebagai professional pun bakal tercoreng.

Hasil penelitian oleh Tim Riset Tuck School of Business, Darmouth (dibawah pimpinan Sydney Finkelstein), terhadap berbegai kegagalan bisnis di sejumlah Negara maju menunjukkan betapa kegagalan perusahaan lebih banyak ditentukan oleh rendahnya kualitas personal pemimpin. Repotnya, kualitas personal ini terkait denagn kualitas personal yang mengagumkan dari para pemimpin itu sendiri. Kebanyakan penghancur perushaan adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan dan talenta luar biasa.

Mereka selalu tampil menarik, mempertontonkan daya tarik personal, dan menginspirasikan orang lain. Foto wajah mereka sering menghiasi majalah-majalah bisnis kelas dunia macam Forbes, Fortune, Business Week, dan sebagainya.
Dari penelusuran terhadap daftar eksekutif perusahaan yang gagal, mulai dari perusahaan Rubbermaid hingga Enron, Wang Labs, Sony, dan Samsung, tim riset ini berhasil merumuskan 7 tabiat eksekutif yang gagal tersebut. Tabiat ini harus menjadi catatan oleh seluruh jajaran perusahaan, dari manajer hingga CEO.




Tabiat 1 Mereka melihat diri dan perusahaan mereka mendominasi lingkungannya.
Seorang eksekutif harus memiliki ambisi besar dan bertindak proaktif utnuk sukses, namun dasar dari tindakannya itu harus didasarkan pada filosofi yang tepat. Pemimpin sukses bertindak proaktif karena mereka menyadari bahwa mereka tidak mendominasi lingkungan. Mereka tahu,betapapun suksesnya di masa lalu, mereka tetap berhadapan dengan lingkungan yang terus berubah. Mereka harus terus meluncurkan inisiatif baru karena mereka tidak mampu menjamin segala sesuatu terjadi sesuai harapan. Perencanaan perushaan harus senantiasa disesuaikan dan ditinjau ulang.
Pemimpin yang melihat diri dan perusahaan merea mendominasi lingkungan melupakan hal ini. Mereka sngat yakin dengan kemampuan mereka mengontrol apa yang akan terjadi dan mengabaikan peran kesempatan dan keadan terhadap keberhasilan mereka. Mereka berpikir mampu mendiktekan kehendak mereka terhadap lingkungan. Mereka merasa bahwa kesuksesan diri dan perusahaan mereka karena mereka membutnya terjadi.

Tabiat 2 Tidak ada batas antara kepentingan pribadi dengan kepentingan perusahaan.
Kemampuan eksekutif untukmengidentifikasi kepentingan perushaan secara mendetil bisa menyebabkan mereka mengambil keputusan yang tidak bijak. Selain memperlakukan perusahaan sebagai sesuatu yang perlu mereka besarkan dn lindungi, para CEO yang mengidentifikasi kepentinganperusahaan terlalu banyak bisa memperlakukan perusahaan sebagai kepanjangan diri mereka. Mereka mengakibatkan perusahaan melakukan sesuatu yang masuk akal bagi dirinya, namun belum tentu masuk akal bagi perusahaan. Mereka seakan akan bertindak sebagai pemilik perusahaan dn berhak melakukan apa saja dengan mengatas namakan kebaikan perusahaan. Padahal, sebenarnya lebih untuk kepentingan pribadinya.